Serial Ulama Ahlussunnah

Ayo kita  mengenal ulama-ulama islam yang banyak berjasa untuk kaum muslimin.

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya Allah ﷻ akan mengutus (menghadirkan) bagi umat ini orang yang memperbaharui urusan agama mereka pada setiap akhir seratus tahun”.

Imam Ahmad mengatakan, “Sesungguhnya Allah ﷻ akan menghadirkan bagi umat manusia, pada setiap akhir seratus tahun orang yang akan mengajarkan kepada mereka sunnah-sunnah Rasulullah ﷺ (yang banyak telah ditinggalkan manusia) dan menghilangkan/memberantas kedustaan dari (hadits-hadits) Rasulullah ﷺ.”

Hati yang ikhlas dan kegigihan membawa Imam Abu Hanifah menjadi seseorang yang sangat berilmu dan cerdas, sehingga Imam Malik mengatakan, “Iya, aku melihat Abu Hanifah adalah seseorang yang cerdas. Jika Abu Hanifah mengatakan kepadamu bahwa tiang kayu ini adalah emas, kau akan menerima alasan yang Abu Hanifah katakan”.

Serial "Imam Abu Hanifah"

Terbaru

Terlaris

Imam Abu Hanifah adalah seorang ulama besar fiqih yang terkenal dengan keilmuan dan kewaraannya. Beliau adalah anak pedagang yang selalu belajar sejak kecil hingga dijuluki Abu Hanifah. Diantara Guru Beliau adalah Imam Atha bin Rabah murid dari shahabat Abdullah bin Abbas, dan Nafi’, bekas budak sahabat Abdullah bin Umar.

Hati yang ikhlas dan kegigihan membawa Imam Abu Hanifah menjadi seseorang yang sangat berilmu dan cerdas, sehingga Imam Malik mengatakan, “Iya, aku melihat Abu Hanifah adalah seseorang yang cerdas. Jika Abu Hanifah mengatakan kepadamu bahwa tiang kayu ini adalah emas, kau akan menerima alasan yang Abu Hanifah katakan”.

Sedangkan ibadah Imam Abu Hanifah sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Abi Rawwad, “Aku memperhatikan Abu Hanifah selama 10 hari dan aku tidak pernah melihat Abu Hanifah tidur”. Lalu, apa yang dilakukan oleh Abu Hanifah? “Sepanjang malam Abu Hanifah shalat, membaca alquran dan berdzikir”.

Imam Malik adalah Imam Darul Hijrah, Madinah, orang yang sangat dihormati oleh penduduk kota Madinah dan kaum muslimin dari kota lain. Tumbuh di tengah-tengah keluarga yang sangat memuliakan ilmu. Bapak dan pamannya adalah murid dari para shahabat Rasulullah ﷺ, bahkkan Nafi’ yang merupakan murid terbaik shahabat Abdullah bin Umar adalah pamannya Imam Malik.

Imam Malik adalah orang yang sangat mencintai, menghormati dan menghargai ilmu dan hadits Nabi ﷺ. Sehingga Imam Malik menjadi Imam pertama yang membukukan hadits-hadits dalam kitabnya alMuwaththo’. Buku ini nantinya menjadi rujukan pertama dan utama bagi kitab-kitab hadits yang datang di zaman setelah beliau, sebagaimana dikatakan oleh Ibnul Arabi.

Imam Asysyafii dilahirkan di Gaza, pada tahun 150H. Garis keturunan Imam Syafii bertemu dengan garis keturunan Nabi Muhammad ﷺ pada kakek yang bernama Abdu Manaf. Beliau menceritakan perjuangannya dalam belajar. Beliau berkata, “saat sudah menghafal alquran, aku sering pergi ke masjid dan belajar kepada para ulama. Aku menghafal hadits atau permasalahan dalam agama. Dahulu rumahku di Makkah, di kampung keluarga al-Khaif, jika aku menemukan tulang yang sudah kering, tulang itu aku pakai untuk menulis hadits atau sebuah permasalahan agama”.

Begitulah semangat Imam Syafii dalam belajar di masa kecilnya, kegigihan yang menjadikannya seorang Imam besar fiqh, bahkan disebutkan oleh Imam alHakim sebagai pengganti Imam Abu Hanifah karena beliau lahir di tahun Imam Abu Hanifah wafat. Imam yang berasal dari keturunan Quraisy, Imam Asysyafii.

Imam Ahmad lahir dari keluarga bangsawan. Bapaknya adalah seorang walikota di daerah Sarkhos. Hidup di keluarga yang serba berkecukupan tidak menjadikan Imam Ahmad lantas hidup bermalas-malasan dari ilmu, karena ilmu adalah harta yang paling berharga yang dimiliki oleh seorang hamba Allah ﷻ. Kegigihan dan ketekunan membuat Imam Ahmad hafal quran di umur 10 tahun.

Guru pertama Imam Ahmad adalah Husyaim bin Basyir, setelah 4 tahun Husyaim bin Basyir meninggal dunia Imam Ahmad pergi ke kota Kufah untuk melanjutkan belajarnya, lalu ke kota Bashrah, Hijaz, Makkah, Madinah, Yaman, Syam, Maroko dan Aljazair. Bertemu dengan banyak sekali Ulama di zamannya menjadikan Imam Ahmad salah satu dari 4 Imam besar yang menjadi rujukan bagi kaum muslimin dalam beribadah kepada Allah ﷻ.

Imam Ibnu Majah terlahir di kota Qauzin, kota yang dipenuhi dengan ulama. Sejak kecil, beliau sudah terbiasa hadir di majlis ilmu yang diajar oleh para ulama besar. Sejak kecil, beliau sudah hafal quran dan hadits-hadits Nabi ﷺ. Guru pertama beliau dan sekaligus guru pertama dalam bidang hadits adalah Imam Ali bin Muhammad aththanafusi, beliau sudah tertarik dan mulai mendalami ilmu hadits sejak berusia 15 tahun. Setelah itu, beliau mendatangi ratusan ulama dari berbagai kota sebagai bentuk kecintaan beliau kepada ilmu.

Banyaknya guru beliau ini menjadikannya memiliki ilmu dan pengetahuan yang luas, dan salah satu karya dari ilmu beliau yang masih dapat kita baca sampai sekarang dan menjadi rujukan para penuntut ilmu hadits adalah kitab Sunan Ibnu Majah.

Imam Abu Dawud adalah seorang Imam keturunan arab, tepatnya suku Azdi dari Yaman, lahir di Sijistan, Iran. Keluarga Imam Abu Dawud adalah golongan keluarga yang shalih, kakek buyut dari Imam Abu Dawud hidup sezaman dengan Ali bin Abi Thalib, oleh karena itu semenjak kecil Imam Abu Dawud sudah terbiasa mempelajari ilmu agama, baik alquran maupun hadits. Setelah beliau menguasai dasar ilmu yang beliau dapat dari ulama negeri Sijistan, Imam Abu Dawud pergi ke berbagai kota untuk mencari ilmu. Hingga beliau bertemu dengan Imam Ahmad, para ulama mengatakan bahwa ibadah, akhlaq dan perilaku beliau sangat mirip dengan Imam Ahmad. Masyaallah.

Imam Adzdzahabi seorang ulama yang dikenal sebagai ulama ahli sejarah memuji Imam Abu Dawud, “ Imam Abu Dawud ulama dalam ilmu hadits dan juga ilmu fiqih. Hal ini bisa dilihat dari karya tulisnya. Beliau juga murid terbaik Imam Ahmad dan selalu hadir dalam majlis Imam Ahmad saat berada di Baghdad, dan belajar berbagai permasalahan ilmu agama. Beliau berada di atas jalan para ulama terdahulu dan selalu mengikuti sunnah”. Semoga kita selalu bisa meneladani hidup mereka dalam menuntut ilmu, beribadah dan berakhlaq mulia.

Imam Bukhori lahir di kota Bukhoro dari keluarga ulama. Bapaknya adalah seorang Alim, namun beliau tidak sempat belajar langsung dengan bapaknya dikarenakan bapaknya meninggal saat beliau masih kecil. Allah ﷻ menganugerahkan kecerdasan yang luar biasa kepada Imam Bukhari juga ketekunan kepada Imam Bukhari sehingga Beliau melakukan perjalanan berkeliling kota untuk belajar kepada lebih dari 1000 guru, dan Imam Bukhari hafal seluruh hadits yang diajarkan oleh semua gurunya.

Suatu ketika, Imam Bukhari pergi ke kota Baghdad dan para ahli hadits kota Bahgdad mendengar kedatangan beliau. Lalu mereka berkumpul dan sepakat untuk menguji kecerdasan Imam Bukhari dengan menanyakan kepadanya 100 hadits yang telah diganti isi dan orang-orang yang meriwayatkannya. Dan Imam Bukhari berhasil menjawab keraguan para imam hadits kota Baghda dengan jawabannya. Rajinnya Imam Bukhari dalam belajar beriringan dengan rajinnya Imam Bukhari dalam beribadah kepada Allah ﷻ, bahkan dikatakan bahwa beliau shalat 2 rakaat untuk setiap hadits yang ingin beliau masukkan dalam kitab beliau, Shahih Bukhari. Semoga kita bisa mencontoh Imam Bukhari dalam belajar dan ibadahnya.

Imam Muslim adalah salah satu murid terbaik Imam  Bukhari, berasal dari keturunan Arab yaitu dari kabilah Alqusyairi. Beliau lahir dan tumbuh di Naisabur. Seperti gurunya Imam Bukhari, Imam Muslim melakukan perjalanan yang panjang untuk menuntut ilmu dari negeri Syam, Mesir dan negeri-negeri lainnya, sehingga para ulama ahli sejarah mengatakan, bahwa ada ratusan orang yang menjadi guru Imam Muslim.

Imam Muhammad bin Basyar berkata, “ Ulama di dunia ini yang paling pantas digelari hafidz ada 4, mereka adalah Abu Zur’ah yang ada di kota Ray, Muslim bin AlHajjaj yang ada di kota Naisabur, Addarimy yang ada di kota Samarqandi, dan Muhammad bin Ismail yang ada di kota Bukhoro”.

Imam Annasai lahir di kota Nasa, kota kecil yang sekarang berada di negara Turkmenistan. Semenjak kecil beliau sudah mencintai ilmu. Pada usia 15 tahun beliau sudah memulai pengembaraan mencari ilmu menuju kota kecil Baghlan, yang terdapat di wilayah Balkh. Beliau mendatangi seorang ulama yang menjadi guru pertama beliau dalam ilmu hadits, bernama Imam Qutaibah bin Said.

Pengembaraan yang panjang dari kota ke kota mencari ilmu dari para ulama zaman itu menjadikan beliau seorang ulama yang ahli dalam ilmu hadits. Dan akhirnya dengan ilmu yang luas beliau memiliki banyak murid-murid yang mewarisi ilmu beliau, seperti Imam Ibnu Hibban, Imam At-Thahawi, Imam At-Thabrani, dan lain-lain yang semuanya juga adalah para ulama hadits di kemudian hari.

Imam Tirmidzi sudah hafal quran sejak masih kecil. Setelah beranjak dewasa, beliau berguru ke semua ulama yang ada di kota Tirmidz, kota kelahiran beliau yang berada di selatan Negara Uzbekistan sekarang. Kemudian beliau pergi ke berbagai kota untuk belajar. Itu adalah kebiasaan ulama dari zaman ke zaman, belajar dan belajar, memenuhi kehidupan dengan ilmu dan mencari ilmu kemanapun ilmu itu berada.

Guru Imam Tirmidzi yang paling terkenal adalah Imam Bukhari, karena Bukhara adalah kota pertama yang beliau kunjungi untuk menuntut ilmu. Beliau sangat menyayangi Imam Tirmidzi, kecerdasan beliau diberkahi oleh Allah ﷻ, sehingga suatu ketika Imam Bukhari memuji beliau dengan mengatakan, “ Ilmu yang kudapatkan darimu lebih banyak daripada ilmu yang engkau dapatkan dariku”. Imam Umar bin Allak pernah berkata, “ tidak ada seorang pun yang bisa menggantikan posisi Imam Bukhari setelah meninggal, kecuali Abu Isa (Imam Tirmidzi) dalam masalah ilmu, kuatnya hafalan dan kemuliaan akhlaq”.

Imam Tirmidzi banyak menangis hingga matanya mengalami kebutaan. Begitulah ulama, mereka selalu menyandingkan antara ilmu dan ibadah dalam kehidupan mereka, semoga kita semua dapat mengikuti langkah kehidupan mereka.