Kecil-Kecil Berakhlak Rasulullah ﷺ

Jilid Lengkap 1 dan 2

Al-Imam Hasan al-Bashri -seorang tokoh tabi’in- pernah mengatakan: “belajar sejak kecil itu ibarat memahat di batu.” Sungguh benar ucapan beliau. Mengajarkan ilmu kepada anak-anak itu ibarat kita menulis sesuatu di batu. Tentu tulisan itu akan selalu ada, bahkan bisa bertahan selama bertahun-tahun.

Semua ilmu-ilmu selain al-Qurán itu hanya menyibukkan saja, kecuali ilmu hadits dan fiqih dalam islam.

Al-Imam asy-Syafi'i

Terbaru

Terlaris

Pada suatu hari, seorang Yahudi bertemu Rasulullah yang sedang bersama Aisyah. Orang Yahudi itu menyapa Rasulullah dengan panggilan buruk. Dia berkata: “Assamu ‘alaikum” artinya: ‘Semoga kamu mati’. Dengan tenang, Rasulullah menjawab: “Wa’alaikum”, artinya ‘begitu juga dirimu.’ Namun Aisyah yang mendengar perkataannya langsung marah dan berkata: “Semoga kamu yang mati dan mendapatkan laknat.” Lalu, Rasulullah berkata kepada Aisyah: “Wahai Aisyah, bersikaplah lemah lembut. Sesungguhnya Allah mencintai kelemahlembutan dalam segala hal.”

Islam mengajarkan kita untuk bersikap lemah lembut, baik dalam perbuatan maupun ucapan. Sikap lemah lembut itu harus kita lakukan kepada siapa pun, baik kepada orang tua, saudara, guru, maupun teman. Anak yang bersikap lemah lembut kepada orang tuanya adalah anak yang berbakti dan kelak Insya Allah masuk surga.

Adik-adik yang dirahmati Allah ﷻ, ada yang mau jadi saudara setan? Tentunya kita tidak mau menjadi saudaranya setan. Setan itu jahat dan suka menggoda manusia agar berbuat dosa. Setan selalu berusaha membuat manusia untuk ikut masuk ke dalam Neraka. Kita pasti tidak ingin masuk neraka, dan ingin masuk Surga. Akan tetapi, kita terkadang menjadi saudaranya setan. Kapankah kita menjadi saudaranya setan? simak jawabannya di buku ini.